Indonesia Women's Empowerment Program

Kerajinan Rotan dari Cirebon terkenal dengan keindahan dan kekuatannya. Produk kerajinan ini diproduksi di desa-desa salah satu yang paling dikenal adalah Desa Tegalwangi. Banyak pengrajin rotan alam di desa Tegalwangi, hingga akhirnya meluas produksi kerajinan rotan ke desa-desa sekitarnya.

Gambar : Ibu Suherman sedang menganyam rotan di workhsop

Salah satunya desa Kertasari, kec. Weru, Kabupaten Cirebon. Kebanyakan pengrajin rotan adalah laki-laki karena membutuhkan tenaga ekstra untuk membengkokkan rotan yang keras. Rotan itu lentur tapi kuat. Rotan juga keras namun bisa dibengkokkan dengan api (semangat) dengan kata lain pengrajin rotan memang membutuhkan kegigihan membentuk rotan menjadi perabot rumah tangga yang indah seperti kursi, meja hingga hiasan lampu.

Kebanyakan wanita di desa ini, sekitar Desa Tegalwangi hingga Desa Kertasari, memiliki ketreampilan menganyam dan dibutuhkan untuk membantu proses produksi kerajinan Rotan. Banyak dari mereka mengerjakan proses anyam di rumah masing-masing, sementara yang pria mengerjakan proses yang lebih berat di workshop atau di teras rumah mereka.

Kerajinan rotan ini umumnya pesanan dari pabrik untuk dikirim ke luar kota bahkan untuk diekspor. Kondisi pandemi juga membuat kerajinan rotan menurun. Antusias kerajinan rotan alami menurun sehingga banyak pengrajin yang beralih ke rotan sintesis.

Gambar : Produk rotan alami

Rotan alami memang kuat dan perlu diproses kembali seperti pengamplasan agar lebih halus permukaannya Selanjutnya Rotan dilakukan pengecatan pelitur kayu agar produk rotan alami ini berwarna mengkilap dan bertahan lama dari paparan sinar matahari. Sedangkan rotan sintetis sudah memiliki warna dan ukurannya beraneka ragam yang langsung dapat dianyam dan tidak perlu proses pengecatan.